Skip to content

Minggu Sore Desember Kelabu

December 8, 2009

Minggu sore dibulan desember adalah tentang air mata seorang sahabat yang kehilangan ayahanda. Sebuah kehilangan abadi dalam wujud, perih tapi hal ini pasti terjadi. Kematian adalah memang yang tak pernah bisa ditawar.

Kurang dari duapuluh empat jam sebelum kehilangan, aku mendengarkan kesahnya menyimak keluhnya memberikan pandangan dan saranan mencoba meringankan gelisah seorang sahabat perempuan. Seorang sahabat yang kukenal sangat, aku tau kemampuannya dan sangat yakin ia pasti bisa mengendalikan rasa, kehilangan dengan ikhlas, kecewa secukupnya, marah sebatasnya dan menangis sewajarnya.

Minggu itu awalnya kami akan bertemu, aku berniat meringankan gelisahnya menghabiskan beberapa rupiah ala wanita berdiam disalon dengan mendengarkan lagi kelukesahnya. Pesan elektronik terakhir yang kuterima adalah pembatalan janji pertemuan kami ~batal aja ya, gak tega ninggalin rumah~ ~should i come..?~ ~gak usah, lagi rame banget percuma~ ~fine, u know where to find me if u need me sayang~ ~merci m’amie~  tepat 120 menit sebelum selularku menampilkan rangkaian kata darinya, ~teman ayahku sudah meninggal~

Kudengar suaranya, ada airmata dan ketegaran yang dipaksa.

Usia memang tak pernah jadi jaminan ketika kematian menjadi pembicaraan, ayahnya berada di usia yang tepat sama dengan ayahku empatpuluhtujuh sebuah angka yang mereka bilang masih muda. Dirinya berada pada sasana runutan silsilah keluarga yang tepat sama dengan ku, putri sulung keluarga. Kesamaan yang membuatku sangat sangat tersadar,sekiranya usia memang bukan jaminan.

Aku sudah mencoba untuk tidak, tapi ternyata aku tak sekuat itu. Pelan kakiku berjalan, ayahku sedang tidur siang di kamar. Dalam diam kudengarkan nafasnya, kuperhatikan tidurnya, lalu aku bicara pada Tuhan ditemani air mata sialan yang sudah kucoba tahan.

Tuhan, terimaksih aku masih diberi kesempatan untuk menyadari bukan hanya mengetahui bahwa takdirmu adalah pasti. Terimakasih aku masih diberi kesempatan, mengukirkan senyum pada wajah yang sedang tertidur didepanku. Terimakasih aku masih diberi kesempatan, meriview semua gerutu ketika aku melakukan yang beliau mau tapi hatiku tak setuju. Memahami semua yang beliau inginkan untukku adalah yang baik dan akan selalu yang baik.

Kematian adalah yang tak pernah bisa ditawar dan usia sama sekali bukan jaminan. Usia tak pernah bisa jadi jawaban jika kita bertanya kapan tentang kematian. Maka ketika Tuhan masih memberikan kesempatan sangat tolol rasanya jika kita siasiakan, terlebih untuk membahagiakan mereka yang kita sayang.

Desember, Selasa pagi

juga posting di ngerumpi

Advertisements
13 Comments leave one →
  1. _bang mir_ permalink
    December 8, 2009 02:35

    sesungguhnya kematian adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya…

  2. komang ayu permalink
    December 8, 2009 02:41

    Tuhan, terimaksih aku masih diberi kesempatan untuk menyadari bukan hanya mengetahui bahwa takdirmu adalah pasti. Terimakasih aku masih diberi kesempatan, mengukirkan senyum pada wajah yang sedang tertidur didepanku. Terimakasih aku masih diberi kesempatan, meriview semua gerutu ketika aku melakukan yang beliau mau tapi hatiku tak setuju. Memahami semua yang beliau inginkan untukku adalah yang baik dan akan selalu yang baik.

    hiks… jd kangen papa,,,
    thx, bikin gw sadar n beruntung msh bs ngerasain punya papa mpe saat ini…
    bwt sahabat yg baru saja kehilangan, sabar ya syg, pasti ada hikmah dbalik sedihmu ini,, yakin qta semua dsini ada bwt kmu….

  3. December 8, 2009 05:17

    jadi marilah kita membahagiakan mereka selagi masih bersama di dunia.
    big hug untuk temannya ya. semoga diberikan ketabahan…

  4. December 8, 2009 08:53

    Ketika ayahku meninggal kumenangis
    karena tanpa bisa kuhentikan adalah munculnya penyesalan
    Penyesalan karena belum bisa membahagiakan
    Penyesalan karena tidak merawat dengan sungguh2
    Kutau takdir ini akan datang dengan pasti

    So, be nice to your father, be a nice doughter for your father

  5. yuli narni permalink
    December 8, 2009 08:53

    thanks teman..

    gw ikhlas, gw sabar, gw kuat..dari bokap didiagnosa terkena penyakit “Itu” gw sudah mempersiapkan hati, jiwa dan pikiran gw untuk menyambut hari ini. hari disaat gw bakal keilangan dia selamanya di dunia, hari terakhir gw mendengar desahan nafasnya, hari terakhir gw bisa meluk dia. gw sudah mempersiapkan diri teman dari 4 bulan terakhir ini, mencoba menerima ketetapanNya..mencoba tegar seperti sms seorang teman ” Semoga Allah memberikanmu ketangguhan Umar, kelembutan selembut Rosul, keikhlasan dalam menerima cobaan hidup seikhlas Ali bin Abi Thalib.”

    Gw berusaha..dan ternyata Allah mengabulkannya..gw bisa kuat tanpa menangis meratap..gw ikhlas karena gw tau janjiNya adalah pasti..gak ada satu pun air mata yang menetes saat gw ada disamping bokap, saat beliau terakhir kali menghembuskan nafasnya..gw bilang “liat yuli bak, liat yuli..ikutin ucapan yuli..Allah..Allah..Laailahailallah..Allah”, gw ada disampingnya teman..Subhanallah..membimbing dia untuk mengucapkan kalimat Maha Agung tsb.

    Sekarang gw mau bilang ke bokap..”Liat yuli bak, liat yuli..yuli pasti bisa jadi pelita diantara pelita-pelita lainnya, jadi seorang anak yang bak impikan, sukses dunia dan akhirat, jadi wanita yang paling bahagia di dunia..”

    See u there Ayahandaku tercinta..di taman-taman surgaNya..bersama Ibu, Adik-adik, Kau dan Aku.

    • December 8, 2009 23:47

      hae sayang, u did your best already. en everything is gonna be like it used to be. innalilahi wa inna ilahi rajiun. hugs 😉

  6. December 8, 2009 09:50

    ya sekarang kita belajar seperti sebuah lagu manfaatkan amsa Sehatmu sebelum amsa sakitmu dan yang utama manfaatkan masa Hidupmu sebelum ajal menjemputmu….

    saya selalu berpikir sesungguhnya kita yang masih hidup bisa bersyukur dan menjalani kehidupan dengan bisa membahagiakan Mereka para Orang tua kita

  7. December 8, 2009 12:10

    Setuju sama Bang Omiyan;
    Pergunakan hidupmu sebelum matimu

  8. December 8, 2009 23:16

    Bulan Mei 2008, aku mengalami hal yang sama. Ayah ku meninggal di usia 59 tahun. Sabar dan ikhlas…. Itu yang hanya bisa aku dan keluargaku lakukan.
    Peran seorang sahabat sangat diperlukan untuk membuat tegar.

    Nice post…

    Salam kemuakhian

    Blogger Lampung Admin
    hairulef
    http://hairulef.wordpress.com

  9. December 9, 2009 03:49

    Innalillahi…wa inna illahi rajiun… *ikutan nyesek*

  10. December 10, 2009 06:21

    Innalillahi wa innailaihi roji’un. Ayahku belum meninggal sih… Thx 4 sharing, telah menambah ‘bahan bakar’ untuk lebih mencintai ayahku selagi masih hidup. 🙂

  11. December 12, 2009 04:20

    Bok, salam buat sahabat lo ya…
    be strong, sabar dan jangan larut dalam kesedihan

  12. January 14, 2010 04:28

    ma kasih bisa ngingetin agi.. dah lama ga ketemu bokap, kemaren cuman ketemu nyokap bentar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: