Skip to content

Antara DUA Wanita

December 22, 2009

Duapuluhduatahun lalu ketika aku sudah jengah dengan posisi memeluk lutut dan ingin sekali meneriakkan suara pertamaku ke udara terbuka maka aku terpaksa membuat perut mu sakit dan melilit. Mempermainkanmu dengan keraguraguan ku untuk melihat dunia, membuatmu harus menginap dan berlama lama terbaring disana, mereka menyebutnya rumah bersalin.

Suara tangisku pecah, tubuhku dan tubuhmu berlumur darah. wanita berseragam putih itu menyerahkanku padamu, kulihat engkau berairmata dan hey..!! aku juga. Kita memang sama.

Aku lapar, maaf mom lidahku masih tajam. Engkau meringis, sepertinya sakit. Detik berikutnya kulihat kau malah tersenyum manis. Dan aku tertidur.

Ada rangkaian hari ketika tubuhku harus terus disuntik, tak jarang malah membuat ku sakit dan sering menangis. Wajahmu lelah dengan kain gendongan yang selalu melilitku di tubuhmu. Tidurku yang tak pernah jadi tidurmu karena engkau takut terjadi sesuatu padaku.

Tibalah saat sekolah pertamaku, kupegang erat tanganmu. Kenapa aku harus duduk diruangan penuh warna itu tanpamu. Aku tak mau. Jadilah wanita yang dipanggil ibu guru mempersilahkan mu menemaniku. Aku senang.

Pernah aku berlari kencang menempuh jarak dari sekolahan berteriak lantang dengan airmata seperti hujan. Terhuyung huyung mencarimu sesampaiku dirumah, memelukmu dengan seluruh frustasi ala bayi karena tak bisa mengerjakan soal soal yang di uji. Engkau memelukku, menghapus airmataku memintaku menarik pelan nafas, nanti kita belajar lagi sekarang makan dulu ucapmu.

Dan ketika aku mendapatkan bercak darah pertamaku, membuatku bingung ada apa dengan tubuhku. Kita duduk berdua, engkau mulai menjelaskan yang semestinya. Ada kewajiban baruku disana, ada nada banggamu juga. Menurutmu aku sudah dewasa, dewasa tahap pertama.

Aku menemukan sebuah buku harian, dimana engkau menuliskan catatan catatan dan seluruh rincian serta tahap perkembangan tentang kelahiranku, sakit pertamaku, langkah perdanaku, pertumbuhan gigiku, potongan rambutku, ulang tahun ku, dan seluruh tentangku disaat memoriku belum mampu mengingat semua itu dengan baik. Membacanya sealu membuatku menangis.

Tahun tahun berikutnya, kita mulai dengan berbagai kerajinan tangan ala wanita. Mengenalkanku pada bawang merah, lada, dan sebagainya. Membiarkanku merasa bangga pada tiap helai pakaian basah yang kuperas airnya. Mempersilahkan ku memperlambat setiap pekerjaan mu dirumah.

Ada masa ketika aku lebih banyak bicara. Merasa paling tau dan sangat mengenal dunia, tapi tetap hampir tak ada pertengkaran diantara kita. Engkau mendengarkan setiap aku berkoar dan aku diam ketika engkau mulai pitam.

Lalu usiaku bertambah, melewati dewasaku yang kedua. Tujuhbelas jumlah lilinnya

Selanjutnya kita mulai membicarakan pria, pengalamanmu dengan mereka termasuk kisahmu dengan ayah. Dan juga kegiatan belanja, yang selalu membuat ku tergila gila. Kita menyebutnya hari wanita.

Ketika sering terjadi yang disebut diskusi, aku membawa semua materi dan teori dan engkau menyambut dengan senang hati. membicarakan banyak hal lewat berbagai pandangan, tak jarang cerita hidup seseorang juga jadi ulasan. Contoh nyata istilahnya.

Sekarang usiaku duapuluhdua dan engkau empatpuluhempat angkar kembar yang sama, dan ini adalah tulisanku tentangmu yang bukan perdana. Akan selalu ada banyak kata jika bercerita tentang kita.

Sejak suara tangisku pecah, tubuhku dan tubuhmu berlumur darah, kulihat engkau berairmata, hey..!! aku juga. Ah Kita memang sama. Wanita.

Selamat hari ibu bunda

Posting juga di ngerumpi

Advertisements
10 Comments leave one →
  1. December 22, 2009 03:19

    ibumu hebat,
    kau juga
    smua wanita di muka bumi ini juga
    🙂

  2. latree permalink
    December 22, 2009 03:32

    kapan jadi ibu?
    * ibu kita hebat semua kayanya ya 😀 *

  3. December 22, 2009 04:04

    @ warm : iya om semua ibu memang hebat semua wanita juga, beruntunglah kalian para pria :mrgreen:
    salam buat ibu dan wanita mu ya om

    @ latree : 😯 ahh mbak la iki lhoooo, menohok pertanyaan ne. mau segera tapi calonnya mana 😆

  4. December 22, 2009 04:30

    selamat hari ibu,
    mari melukis senyum di wajah beliau… 🙂

  5. December 23, 2009 01:23

    SELAMAT HARI IBU
    JUST 4 MOM

  6. December 23, 2009 13:22

    @ lina : selamatttttt..!! yuk mariii mbak 😉

    @ indra : selamat om selamat :mrgreen:

  7. December 25, 2009 05:49

    22 dan 44????
    woww!!!!

    berarti si emak dl married, pada saat seumuran lw dunk???

  8. December 26, 2009 23:40

    So sweet… 🙂

Trackbacks

  1. Surat dari IBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: